:
Tana Toraja nan indah permai

LEARN ENGLISH MAKE FRIENDS !!!!!!!

LEARN ENGLISH MAKE FRIENDS !!!!!!!
..:: WELCOME TO THE R.I.A.N.N.A'S BLOG FOREVER ::.. ..:: HAVE A NICE BLOGGING ::.. ..:: THREE CHEERS FOR R.I.A.N.N.A S.O.U.L ::.. ..:: WHAT THE FUCK WITH YOU ::.. <<< THANKSGIVING >>>

Rabu, 23 November 2011

Tana Toraja nan indah permai

Sejak selesai mengunjungi Wamena, saya sudah ingin melihat Tana Toraja, dengan ibu kotanya Makale. Sepulang dari Wamena, kedua staf ku melanjutkan perjalanan ke Toraja, tetapi saya harus langsung pulang ke Jakarta, karena besoknya putri bungsuku ulang tahun.
Akhirnya kesempatan itu datang juga. Saat bertugas di Makasar, kebetulan permasalahan yang harus diselesaikan cukup banyak, sehingga kepulangan kami terlambat. Ternyata sehari setelah kami bisa menyelesaikan tugas, besoknya liburan hari Raya Paskah, dan jika digabung dengan hari Sabtu dan Minggu kami punya waktu cukup untuk melihat Tana Toraja, maklum perjalanan Makassar Tora memerlukan waktu 8 (delapan) jam.
Kami berangkat dari Makassar sore hari, dan perkiraan sampai Makale tak terlalu malam. Ternyata di jalan ada truk yang rusak pas di tengah jembatan, mengakibatkan jalan tak bisa dilalui. Kami akhirnya bisa memasuki kota Makale jam 22.00 WIT dan langsung ke hotel yang telah dipesan oleh teman di Makale.
Hotel tempat kami menginap dibuat seperti kehidupan di Toraja, dengan rumah adatnya, yang menurut saya agak mirip dengan rumah adat Batak.
Rumah adat Toraja
Setelah selesai sarapan, kami dijemput teman di Makale untuk melihat tempat pemakaman mayat. Keunikan adat di Tana Toraja, mirip dengan di Trunyan Bali, mayat2 tidak dikubur, tapi ditetakkan begitu saja di celah2 pegunungan.
Tempat penyimpanan mayat sebelum dimakamkanMayat disimpan, menunggu upacara pemakaman
Sebelumnya mayat disimpan pada suatu tempat, bentuk tempatnya bermacam-macam (lihat gambar atas), menunggu waktu pemakaman yang sesuai. Pemakaman mayat di Tana Toraja merupakan acara yang ditunggu-tunggu turis, dan memerlukan biaya mahal. Konon katanya, sang mayat bisa berjalan sendiri dan menaiki tangga di pegunungan untuk mencari rumah abadinya. Sayangnya saya belum mendapat kesempatan melihat acara ini.
Pemakaman di gunung batu….lihat celah2nya yang untuk menyimpan mayat
Mayat diletakkan pada gunung, yang dibuat sekat2 dan terdapat jendela, yang umumnya diisi dengan boneka sehingga seolah-olah seperti orang yang melihat dari balik jendela rumah.
Payung dan baju menyertai mayat yang dimakamkan
Pada saat mayat dimakamkan, dibawakan barang2 yang disukai selama hidupnya. Dapat dilihat pada gambar, di dalam pemakaman juga terdapat payung berwarna warni .
Kami makan siang di restoran di tepi sungai, ditemani oleh Pemimpin Cabang Makale. Menurutnya, jika tamunya muslim, harus ditemani saat mencari makan, karena makanan untuk muslim sangat terbatas di Tana Toraja. Selanjutnya, kami melihat pasar dikota Makale. Bentuk pasar tak berbeda jauh dengan pasar di kota2 lain di Indonesia. Disini kami membeli cindera mata, berupa batik khas Tana Toraja.
Malam itu kami kembali menginap di hotel. Pinca Makale sudah mengingatkan, bahwa agar tidak mabuk dijalan, sebelum berangkat ke Makassar harus sarapan. Sarapan tidak boleh banyak tapi secukupnya saja, dan dalam perjalanan disarankan istirahat di Gunung Nona (gunung yang berbentuk seperti buah dada seorang nona) sambil minum kopi dan menikmati pemandangan. Selanjutnya kami disarankan berhenti lagi di Pare-pare untuk makan siang, sesudah itu perjalanan boleh diteruskan ke kota Makassar tanpa henti. Saran ini disebabkan teman saya mendengar, bahwa saat berangkat ke Makale saya mabuk berat, untungnya perjalanan malam, sehingga tak banyak yang bisa dilihat.
Gunung Nona, antara Makale dan Enrekang
Di gunung Nona kami beristirahat, ke toilet dan menikmati secangkir kopi sambil melihat pemandangan yang indah permai.
Kami mampir di kantor cabang perusahaan kami di Enrekang, yang Pemimpin Cabang nya teman seangkatan stafku. Selanjutnya kami makan siang di Pare-pare. Restoran tempat kami makan siang berada di tepi pantai, sehingga kami bisa menikmati kapal laut yang berlalu lalang di pantai.
Dari Pare-pare kami terus menuju kota Makassar, dan sampai dihotel menjelang Magrib. Selesai sholat Magrib kami berjalan-jalan sepanjang jl. Somba Opu dengan naik becak. Jalan Somba Opu terkenal dengan toko emas, yang berbeda dengan emas di daerah lain, karena emas disini berwarna lebih kuning, berasal dari daerah Kendari. Saya membeli seperangkat perhiasan untuk kenang-kenangan.
Becak dikota Makassar, paling kecil dibanding becak2 di kota lain (Bandung, Madiun, Yogya, Solo, Surabaya, Sidoarjo dll)
Becak di Makassar sangat kecil, saya bersama teman cewek nyaris nggak bisa masuk dalam satu becak, padahal sama-sama kurus. Staf saya yang pria mencoba menjadi tukang becak, khusus untuk berpose disini. Malam ini kami tidur dengan nyenyak, karena besok pagi harus kembali ke Jakarta dengan penerbangan pagi.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar