:
Kapan Harus Libur “Seks” saat Hamil?

LEARN ENGLISH MAKE FRIENDS !!!!!!!

LEARN ENGLISH MAKE FRIENDS !!!!!!!
..:: WELCOME TO THE R.I.A.N.N.A'S BLOG FOREVER ::.. ..:: HAVE A NICE BLOGGING ::.. ..:: THREE CHEERS FOR R.I.A.N.N.A S.O.U.L ::.. ..:: WHAT THE FUCK WITH YOU ::.. <<< THANKSGIVING >>>

Selasa, 02 Agustus 2011

Kapan Harus Libur “Seks” saat Hamil?

Saat hamil, tidak semua ibu hamil bisa berhubungan intim dengan bebas. Berdasarka peneriksaan dokter, ada beberapa keadaan yang membuat ibu dan suami terpaksa libur berhubungan intim. Hal ini perlu dipatuhi, mengingat jika dipaksakan akan membahayakan ibu maupun janin. Berikut beberapa kondisi tersebut:
  • Mulut rahim cenderung terbuka (inkompetensi serviks)
Mulut rahim yang bagus berbentuk T. Namun, saat hamil bentuknya bisa berubah menjadi seperti huruf Y,V, lalu kahirnya menjadi U. Jika berbentuk U, janin bisa begitu saja meluncur keluar, rawan keguguran, atau lahir prematur.
  • Pecah ketuban
Ditandai dengan adanya cairan yang merembes keluar melalui vagina. Hal ini menunjukkan bahwa perlindungan janin ikut bocor, sehingga kuman mudah masuk, lalu menginfeksi janin.
  • Plasenta previa
Plasenta previa adalah plasenta yang letaknya rendah atau di bawah menutup sebagian atau seluruh jalan lahir.hubungan seks bisa memicu perdarahan yang dapat mengancam jiwa ibu dan janin.
  • Rawan keguguran/persalinan prematur
Ada rangsangan sedikit saja, janin bisa gugur atau lahir prematur. Biasanya dialami oleh ibu memiliki “rahim” dengan riwayat keguguran dan persalinan prematur sebelumnya.
  • Perdarahan per vaginam
Terjadi perdarahan tanpa diketahui penyebabnya. Sebaiknya tunda dulu berhubungan intim sampai keadaan aman karena dikhawatirkan tengah terjadi proses keguguran. Ibu harus dibawa segera ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan segera.
  • Serviks pendek/tipis
Beberapa ibu memiliki serviks pendek atau tipis, kurang dari 2,5 cm. Jika di trimester kedua, tepatnya 16-20 minggu, panjang serviks kurang dari 2,5 cm, akan dilakukan “pengikatan” mulut rahim supaya bisa terus melangsungkan proses kehamilan.
  • Penyakit menular seksual (PMS)
Jika suami mengidap penyakit menular seksual seperti gonore, sifilis, atau bahkan HIV/AIDS, maka hubungan intim sangat tidak dianjurkan. Karena penyakit tersebut dapat menular ke ibu sehingga meningkatkan risiko keguguran atau lahir prematur, dapat juga menginfeksi janin dan dikhawatirkan terjadi kecacatan pertumbuhan.
Nah, jika pada ibu dan suami tidak terdapat hambatanseperti disebutkan di atas, jangan ragu untuk melakukan hubungan intim. Di hari-hari menjelang tanggal persalinan, hubungan intim semakin dianjurkan bagi ibu yang akan melahirkan normal. Ternyata, sperma membawa hormon prostaglandin yang dapat membantu ibu mengalami kontraksi teratur agar bayi dapat lahir pada waktunya.
Sumber: NAKITA


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar